Nasib …. Benar-benar, yg benar belum tentu “Benar”

12 02 2010

Kita percaya akan nasib baik, dan nasib buruk. Herannya, ketika roda kehidupan berada ’dibawah’ kita sering berkata ”Mau bagaimana lagi? Nasib kita memang seperti ini….” Tetapi, kalau segala sesuatunya sedang indah berbunga-bunga kita tidak pernah mengingat-ingat soal ’nasib’. Seolah-olah definisi kita tentang nasib selalu berkaitan dengan hal-hal buruk dalam hidup. Kita sering merasa bahwa semua pencapaian baik diperoleh dari jerih payah diri kita sendiri. Sedangkan keburukan dan kesialan semata-mata adalah nasib dari Tuhan. Terlebih lagi, kita sering mengira bahwa Tuhan terlalu diktator sehingga dia menentukan nasib seseorang tanpa bisa ditawar-tawar lagi. Benarkah demikian?

Ditengah perjalanan saya berhenti untuk beristirahat disebuh Masjid. Kemudian, menuju ke ruang bersuci. Jika anda ingin membuka keran air, anda putar keran berlawanan dengan arah jarum jam, bukan? Dalam ilmu fisika, itu disebut ’besaran vektor’, dimana usaha yang kita lakukan menghasilkan suatu gaya yang memiliki arah. Aplikasinya, untuk menutup keran air kita memutarnya searah jarum jam, sedangkan untuk membukanya kita memutar kearah berlawanan.

Saya sudah memutar keran sesuai dengan hukum fisika itu. Tetapi, usaha saya tidak berhasil. Saya pikir kerannya macet sehingga membutuhkan tenaga lebih besar. Namun, sekuat apapun saya memutarnya, keran itu tidak hendak bergerak. Dalam situasi yang nyaris membuat frustrasi itu, secara tidak sengaja saya melakukan putaran kearah sebaliknya. Dan tiba-tiba saja air dalam keran itu meluncur keluar. Ternyata, ada keran air yang untuk membukanya kita tidak memutar kekiri seperti yang diajarkan oleh ilmu fisika, melainkan kearah yang berlawanan. Hebatnya lagi, setelah pengalaman pertama itu, saya menjadi sering menemukan keran air ’nyeleneh’ seperti itu.

Keran air aneh itu seolah mengingatkan kita bahwa paradigma-paradigma yang selama ini kita yakini benar itu belum tentu benar-benar ’benar’. Tanpa disadari, dalam hidup kita juga sering mengira bahwa nasib kita sudah dikunci oleh takdir. Kita tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain menerima apa adanya. Terserah kemana nasib membawa diri kita. Makanya, kalau hidup kita kurang beruntung kita boleh menoleh kepada Tuhan. Karena, Dia-lah yang telah menentukan takdir kita. Jadi, Dia-lah juga yang harus bertanggungjawab atas baik atau buruknya nasib kita. Sehingga, tidak heran jika kita sering menyalahkan Tuhan atas kegagalan-kegagalan yang kita derita.

Bayangkan seandainya anda menemukan keran air seperti itu, lalu anda bersikeras untuk membukanya dengan memutar kearah kiri. Sekuat apapun anda, tidak akan bisa membuat keran itu mengalirkan air. Barangkali, hidup kita juga demikian. Bisa jadi setiap kegagalan yang kita alami itu bukan karena nasib semata. Melainkan karena kita terlampu keras kepala untuk melakukan segala sesuatunya dengan cara-cara yang kita anggap benar. Kita memaksakan diri agar orang lain atau lingkungan melakukan segala sesuatunya sesuai keinginan kita. Padahal, bahkan keran air pun memiliki aturannya sendiri. Sehingga supaya airnya keluar, kita harus bersedia mengalah. Dan meletakkan dogma dalam pelajaran ilmu fisika. Lalu, mengikuti aturan keran itu untuk memutarnya kearah yang bertolak belakang dengan nilai-nilai yang selama ini kita anggap benar. Dan ketika kita mengalah; keran terbuka. Lalu air mengalir untuk kita.

Maka pelajaran yang kita dapatkan dari keran air aneh itu berbunyi; ”Merdekakan dirimu dari egoisme, dan perasaan benar sendiri. Lalu beranjaklah kealam toleransi dan saling memahami.” Coba kita perhatikan; bukankah sumber segala pertengkaran kita selama ini adalah sikap kita yang keras kepala? Atau nafsu kita untuk memaksakan kehendak kepada orang lain? Atau keangkuhan karena kita merasa kamu salah, dan saya benar? Oleh karena itu, mungkin segala permasalahan hidup yang kita hadapi ini sebenarnya bisa kita atasi dengan cara mengubah diri kita sendiri. Bukan menunggu orang lain yang mengubah diri mereka untuk kita. Karena, seperti keran air itu, ketika kita bersedia mengikuti iramanya; dia bersedia mengalirkan airnya.

Ketika gagal membuka keran aneh itu saya sempat mengira bahwa sudah nasib saya untuk tidak kebagian air. Namun, ketika saya memutar dengan cara yang merontokkan semua paradigma saya tentang ’besaran vektor’ ilmu fisika itu, saya menemukan bahwa ternyata nasib saya bukanlah ’tidak mendapatkan air’. Nasib saya justru adalah; ”mendapatkan air”. Perhatikanlah; betapa mudahnya nasib berganti.

Fenomena itu menunjukkan betapa tipisnya dinding pemisah antara ’nasib mendapatkan air’ dan ’nasib tidak mendapatkan air’. Keduanya hanya dipisahkan oleh ’usaha’ yang didasari oleh rontoknnya paradigma lama kita. Usaha yang kelihatannya mustahil, namun dengan tenaga yang kecil; bisa menunjukkan hasil yang sesuai dengan keinginan kita.

Dalam hidup juga barangkali demikian. Ada sebuah dinding tipis antara ’nasib kita untuk gagal’, dengan ’nasib kita untuk berhasil’. Memang, selama ini kita sudah bekerja keras. Berusaha semaksimal mungkin untuk meraih ’nasib berhasil’ itu. Namun, mengapa kita selalu dihadapkan kepada ’nasib gagal’? Lantas kita berkata;”Tuhan, sudah aku lakukan semua yang bisa kulakukan. Tapi, mengapa aku masih gagal juga?”

Mungkin memang benar kita sudah berusaha maksimal. Namun, apakah dalam usaha keras itu kita sudah terbebas dari egosentisme dan paradigma-paradigma yang keliru? Bisa jadi hidup kita membutuhkan cara yang bahkan 180 derajat bertolak belakang dengan apa yang kita kira benar itu.

Mungkin, inilah sebenarnya inti pelajaran dari guru ngaji saya tentang mengubah nasib. Beliau bilang Tuhan berfirman: ”Sesungguhnya Aku tidak akan mengubah nasib suatu kaum, hingga mereka mengubah dengan dirinya sendiri.”

Selama ini saya memahaminya sebagai janji Tuhan untuk membantu kita mengubah nasib, kalau kita bersedia untuk berusaha. Namun, keran air aneh itu mengenalkan saya pada kemungkinan lain bahwa yang dimaksudkan Tuhan mungkin bukanlah sekedar bersedia melakukannya sendiri. Melainkan bersedia ’mengubah diri sendiri’. Karena, ketika kita bersedia mengubah diri, maka kita akan mampu menyesuaikan diri. Dan ketika kita mampu menyesuaikan diri, maka kita mempunyai peluang yang lebih besar untuk berhasil. Maka, logislah jika Tuhan menginginkan kita untuk mengubah diri sendiri. Setelah itu, barulah Dia berkenan untuk mengubah nasib kita, menjadi lebih baik.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: